Home / Berita Update / Pemerintahan

Jumat, 13 Mei 2022 - 07:30 WIB

Menengok Museum Trinil Di Kabupaten Ngawi.

Sujono Selaku Pengelola Museum Trinil Menunjukan Tulang - Tulang Era Zaman Pra sejarah. (Argie Prayura/Ngawi)

Sujono Selaku Pengelola Museum Trinil Menunjukan Tulang - Tulang Era Zaman Pra sejarah. (Argie Prayura/Ngawi)

NGAWI (Jatimnesia.com) – Museum Trinil adalah salah satu museum yang menyimpan banyak sekali macam penemuan dari berbagai fosil yang pernah ditemukan di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur.

Di Museum Trinil setidaknya ada 4000 fosil yang telah ditemukan sejak tahun 1891, pada saat itu yang pertama kali menemukan fosil yaitu Eugene Dubois. ” Dari pendataan itu, setidaknya ada 4000 fosil,” kat Sujono (53) Pengelola Museum Trinil yang terletak di Desa Kawu, Kecamatan Kedunggalar, Kabupaten ngawi (12/5).

Sujono mengungkapkan, dari ribuan fosil tersebut, yang dipajang di dalam pameran museum Trinil hanya sekitar 10 persen saja, sedangkan sisanya disimpan dilokasi tertentu. ” Dari data di laboraturium yang berkisar 4000 fosil itu, hanya 10 persen yang dipajang di museum trinil” ungkapnya.

Baca Juga :  DPRD Magetan Terima Aduan Dugaan Pungli PTSL Kawedanan.

Berbagai fosil disimpan di Museum Trinil seperti fosil hewan purba maupun sisa – sisa kehidupan pada zaman pra sejarah, termasuk era manusia kera yang berjalan tegak Pithecanthropus Erectus.

” Ada berbagai macam fosil, ada gajah, badak, banteng dan juga sisa sisa kehidupan dari jaman pra sejarah yaitu jaman pleistosen, termasuk juga yang menjadi ikonnya trinil yang sebagai penelitian pokok yaitu pithecanthropus erectus, manusia kera yang berjalan tegak,” ujar Sujono.

Museum Trinil sendiri terletak di bantaran sungai Bengawan Solo. Nama Trinil diambil dari nama situs penggalian manusia purba yang berarti Tri adalah 3 dan Nil adalah nama sebuah sungai. Dimana Trinil ini juga merupakan perbatasan dari 3 desa di Kabupaten Ngawi yaitu, Ngancar, Kawu dan Gemarang.

Baca Juga :  Peringati Hari Bhakti Adhyaksa Ke- 62, Kejari Magetan Gelar Pekan Olahraga Hingga Baksos.

” Trinil ini diambil dari situs penggalian bahwa di penggalian manusia purba pada jaman Belanda yang dilakukan oleh Eugene Dubois pada tahun 1891 sampai 1893 merupakan perbatasan 3 desa, yaitu sebelah timur itu desa Ngancar, sebelah barat ini desa Kawu dan sebelah utara museum itu desa Gemarang, artinya bahwa penggalian di 3 perbatasan desa, tri itu tiga dan nil adalah kiasan dari nama sungai” pungkas Sujono.

Untuk akses jalan menuju Museum Trinil sudah cukup baik, 3 Km dari jalan raya sudah terdapat papan informasi mengenai letak museum trinil. “Sudah bagus, jalannya sudah bagus disamping juga 3km masuk dari jalan raya itu juga masyarakat tidak bingung” ucap Sujono.

Berita ini 106 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Berita Update

Petani Pacitan Keluhkan Harga Gabah Anjlok.

Berita Update

Hadiah Sabun Cuci Piring Bagi Lansia Yang Sudi Divaksin.

Berita Update

Punya ” Uneg-Uneg ” Tentang Ngawi, Sampaikan Lewat SMS 1708

Berita Update

Semangati Atlit PON XX, Bupati Magetan Bertolak Ke Papua.

Berita Update

Kapolres Madiun Beri Perhatian Khusus Warga ODGJ.

Berita Update

Rumah Kosong Ditinggalkan Ibadah Tarawih, Polres Magetan Tingkatkan Keamanan.

Berita Update

AKP Didik Ary Hendro Jabat Kasat Narkoba Polres Magetan.

Berita Update

Target Pemkot Madiun, Vaksin Anak Sebelum Lebaran Kelar.