Home / Berita Update / Pariwisata

Senin, 5 September 2022 - 21:12 WIB

Menilik ” Kampung Madinah ” Desa Temboro.

Aktifitas Warga Didesa Temboro  Berjuluk Kampung Religi. (Joko Nugroho/Magetan).

Aktifitas Warga Didesa Temboro Berjuluk Kampung Religi. (Joko Nugroho/Magetan).

MAGETAN (Jatimnesia.com)- Desa Temboro, Kecamatan Karas, dikenal sebagai kampung Madinah oleh masyarakat Kabupaten Magetan. Pasalnya mayoritas pakaian yang dikenakan oleh warga Temboro layaknya busana di negeri Arab yakni Gamis panjang hingga mata kaki bagi kalangan laki – laki dan Gamis Syari Niqab bagi perempuan.

Selain penduduk lokal, Desa Temboro juga dipenuhi santri dari berbagai pelosok nusantara bahkan luar negeri, mulai Malaysia, Singapore, Brunai Darusalam serta negara – negara lain. Sumber yang dihimpun jumlah santri yang belajar di Pondok Pesantren Al Fatah Temboro mencapai 25 ribu orang.

Baca Juga :  Polres Madiun Bagikan Ribuan Paket Sembako Kepada Warga Terdampak Kenaikan BBM.

Akibat melubernya pelancong yang datang ke Desa Temboro dari berbagai wilayah, Pemerintah kabupaten (Pemkab) Magetan akhirnya menjadikan desa Temboro sebagai destinasi wisata Kampung Santri.

Karena telah menjadi etalase Kabupaten Magetan dimata pendatang, Pemkab Magetan memoles infrastruktur desa Temboro, mulai jalan, jembatan hingga penyediaan sarana kesehatan berupa Puskemas Pembantu (Pustu).

Di Kampung Madinah Desa Temboro, Traveler dapat menyaksikan hiruk pikuk santri dari berbagai negara yang menimba ilmu di Ponpes Al- Fatah. Dan, pada waktu – waktu tertentu ribuan santri tumpah ruah disepanjang jalan berburu kebutuhan makan dan sehari- hari.

Baca Juga :  DPRD Pekalongan Kunker Ke MPP Magetan.

Salah satu warga desa Temboro yang ditemui Jatimnesia mengaku bersyukur wilayahnya kini menjadi jujugan santri dari segala pelosok dunia.” Alhamdulilah, semoga menjadikan manfaat dan barokah untuk semua umat,” ungkap Khoirul Anwar (28) warga Desa Temboro, Senin ( 5/9).

Khoirul mengaku meskipun santri di Temboro berasal dari berbagai wilayah dengan adat yang berbeda namun mereka dapat hidup rukun berdampingan dan saling menjaga hubungan silaturohmi dengan penduduk asli. ” Alhamdulilah kami selalu menjaga ukhuwah islamiyah,” pungkasnya.

Berita ini 53 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Berita Update

Jelang Ramadhan, Harga Sembako Di Pacitan Merangkak Naik.

Berita Update

SE Mendikbudristek, Wilayah Level 2 PTM Wajib 50%.

Berita Update

Buruknya Jalan Penghubung Ponorogo-Magetan.

Berita Update

DPRD Pacitan Angkat Bicara Kabar Harga Mamin Di Area Wisata Mahal.

Berita Update

Kominfo dan PWI Jatim Gelar Workshop Peningkatan SDM Wartawan.

Berita Update

Produsen Kerupuk Madiun Keluhkan Harga Migor.

Berita Update

Jelang Ramadhan, Harga Sembako Di Pacitan Masih Stabil.

Berita Update

Petani Pacitan Minta Harga Pupuk Non Subsidi Terjangkau.