MAGETAN, JATIMNESIA.COM – Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi Nanik S Deyang memastikan bakal menutup seluruh dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Magetan apabila tidak mengambil telur langsung dari peternak lokal, Senin (1/6).
Komitmen itu disampaikan Nanik setelah mendapatkan keluhan dari peternak ayam petelur terkait anjloknya harga telur di Kabupaten Magetan yang tidak kunjung membaik.
” Saya minta kepala SPPG ini agar telur harganya di Magetan itu naik lagi langsung beli ke peternak dulu sampai harga stabil”, katanya, Senin (1/6).
Nanik memberikan tenggang waktu seminggu kepada SPPG untuk bisa mendongkrak harga telur di daerah, apabila gagal pihaknya bakal di suspend seluruh dapur yang ada.
” Satu minggu dari ini harus ada pergerakan harga. Kalau tidak ada pergerakan harga 71 SPPG saya tutup, harus memakai telur dari Magetan dan membeli dari peternak langsung”, pintanya.
Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi juga mewanti-wanti SPPG yang berani menekan harga ketika membeli kebutuhan bahan makanan. ” Saya suspen kalau menekan harga, saya tutup dapurnya kalau menekan-nekan harga”, tuturnya.
Salah satu peternak ayam petelur, Marno, mengaku bahwa aksi yang dilakukan para peternak beberapa waktu lalu diakui tidak membuahkan hasil yang memuaskan. Karena harga telur masih rendah.
” Mengambilnya cuma syarat, satu kotak atau 15 kilogram. Harga naik sebentar tapi di kandang itu sebagian sudah ada yang diambil sebagian belum, turun lagi harganya”, keluhnya.
Peternak lainnya mengaku bahwa harga telur ayam saat ini masih berada di kisaran Rp 22.800,- perkilogram, padahal Harga Pokok Produksi (HPP) Rp 26.500,- perkilogram
” Tapi kenyataannya di kandang itu diambil sama pedagang itu kisaran 21 ribu. Apalagi dengan harga pakan yang melambung tinggi, sudah empat kali kenaikan harga pakan. Saya kira harapan dari temen-temen peternak itu belum terealisasikan,” tutur Teguh.
Penulis : Joko Nugroho








