PONOROGO, JATIMNESIA.COM – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ponorogo, Jawa Timur, menghadirkan konsep pengembangan wisata malam di kawasan Telaga Ngebel.
Selain mengandalkan panorama alam dan pertunjukan air mancur menari (water fountain), pemerintah daerah ingin menghadirkan pertunjukan tari dan kesenian sebagai atraksi baru untuk menarik lebih banyak wisatawan.
Gagasan tersebut mengemuka setelah pertunjukan sendratari Mystical of Telaga Ngebel bertajuk “Larung Rasa Sang Lelana” digelar di dermaga Telaga Ngebel, Sabtu (24/10/2026) malam.
Pementasan yang memadukan gerak tari, musik, dan tata cahaya dengan latar telaga itu menjadi salah satu upaya menghadirkan pengalaman wisata berbasis seni budaya di destinasi unggulan Ponorogo tersebut.
Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Ponorogo Lisdyarita mengusulkan agar pertunjukan seni di dermaga Telaga Ngebel dapat digelar secara rutin setiap Sabtu malam.
Menurut dia, atraksi tambahan diperlukan agar wisatawan memiliki lebih banyak alasan untuk berkunjung, sekaligus memperpanjang aktivitas kunjungan mereka di kawasan wisata tersebut.
“Saya memang mengusulkan kepada teman-teman pariwisata, setiap Sabtu bisa ada pementasan di dermaga. Sehingga bisa menambah wisatawan datang ke Ngebel,” ujar Lisdyarita, (01/11/2026).
Pengembangan atraksi tersebut juga diarahkan untuk mengoptimalkan potensi ekonomi pariwisata. Bertambahnya kunjungan wisatawan diharapkan berdampak pada aktivitas perdagangan, usaha kuliner, penginapan, hingga pelaku UMKM di sekitar Telaga Ngebel.
Jika mampu dikembangkan secara berkelanjutan, peningkatan aktivitas wisata tersebut juga berpotensi memperbesar kontribusi sektor pariwisata terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Ponorogo.
Lisdyarita menginginkan pertunjukan yang ditampilkan tidak hanya mendatangkan kelompok seni dari luar daerah, tetapi juga melibatkan sanggar tari, kelompok kesenian desa, dan sekolah di sekitar Ngebel.
Dia mencontohkan Tari Kecak di Bali yang berkembang dari kesenian masyarakat hingga menjadi salah satu atraksi wisata yang dikenal luas.
“Di Bali itu ketika mereka menari Kecak itu, awalnya dari lingkungan dulu. Lingkungan yang ada di wilayah sana lalu berkembang. Kita belajar dari situ, makanya saya minta untuk di Ngebel ini, gimana bisa dari lingkungan dulu nanti baru mungkin ada dari luar,” katanya.
Selain menyiapkan pertunjukan seni, Pemkab Ponorogo juga berencana memperkuat suasana kawasan wisata pada malam hari melalui penambahan penerangan dan pencahayaan pepohonan di sekitar telaga.
Pengembangan ini diharapkan menjadikan Telaga Ngebel tidak hanya sebagai destinasi wisata alam, tetapi juga ruang pertunjukan budaya dan pusat aktivitas ekonomi masyarakat.
Pemkab Ponorogo pun dihadapkan pada tantangan untuk mengemas atraksi tersebut secara konsisten agar mampu meningkatkan daya saing destinasi sekaligus memberikan kontribusi nyata terhadap PAD. (adv)
Penulis : ROHMAN









