PONOROGO, JATIMNESIA.COM – Pemerintah Kabupaten Ponorogo berupaya meningkatkan Indeks Inovasi Daerah (IID) dengan menggali potensi inovasi dari perangkat daerah, sekolah, perguruan tinggi, sektor kesehatan, hingga pemerintah desa.
Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui Ponorogo Inotek Award 2026 yang diikuti 78 inovator. Karya-karya inovasi itu juga akan diperkenalkan kepada masyarakat melalui Expo Inovasi pada 3–5 November 2026 di Alun-alun Ponorogo, dalam rangkaian Kemilau Pekan Raya Ponorogo 2026.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Baperida) Ponorogo, Luhur Apidianto, mengatakan inovasi merupakan bagian penting dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah.
“ Pemerintah pusat mengukur kinerja inovasi pemerintah daerah melalui Indeks Inovasi Daerah,” ujarnya, Selasa (27/10/2026).
Menurut Luhur, posisi Ponorogo dalam penilaian tersebut masih tergolong rendah di tingkat Jawa Timur. Karena itu, pemerintah daerah perlu menyediakan wadah untuk menghimpun sekaligus mengembangkan inovasi yang dihasilkan instansi pemerintah maupun masyarakat.
“Antusiasme pada penyelenggaraan perdana ini luar biasa, tercatat ada 78 inovator yang berpartisipasi,” kata Luhur.
Kompetisi tersebut dibagi menjadi tujuh kategori, yakni pendidikan dasar, pendidikan menengah, pendidikan tinggi, organisasi perangkat daerah (OPD), kesehatan, desa atau pemerintah desa, serta kategori terinovatif.
“ Dari seluruh peserta, seleksi dilakukan hingga tersisa lima finalis pada setiap kategori untuk memperebutkan juara pertama, kedua, dan ketiga. Para pemenang akan mendapatkan uang pembinaan, sedangkan pengumuman dan penganugerahan dijadwalkan pada November 2026,” ungkapa Luhur.
Luhur menambahkan, proses kompetisi diawali dengan pengumuman dan pendaftaran, dilanjutkan pengumpulan dokumen persyaratan serta pemenuhan indikator kesiapan inovasi.
Tim penilai kemudian mengevaluasi kematangan inovasi, termasuk penerapan, perubahan sebelum dan sesudah inovasi, manfaat, serta peluang replikasi.
“ Dewan juri melibatkan dua profesor, perwakilan Baperida, akademisi perguruan tinggi, dan unsur Persatuan Wartawan Indonesia (PWI),” tambahnya.
Luhur menilai kompetisi ini membuka peluang munculnya inovasi yang selama ini belum banyak diketahui publik, termasuk karya sekolah-sekolah di wilayah pinggiran.
Upaya tersebut penting karena data Indeks Inovasi Daerah 2025 yang dipublikasikan melalui bahan paparan Ponorogo Inotek Award menunjukkan Kabupaten Ponorogo memperoleh skor 51,26. Angka itu menempatkan Ponorogo di kelompok bawah kabupaten/kota di Jawa Timur dalam pemeringkatan yang ditampilkan.
“ Hasil tersebut menjadi tantangan bagi pemerintah daerah untuk tidak sekadar menghasilkan gagasan baru, tetapi juga memastikan inovasi diterapkan, memiliki bukti pendukung, memberikan manfaat nyata, dan dapat dikembangkan secara berkelanjutan. Baperida berharap Ponorogo Inotek Award menjadi salah satu instrumen untuk memperbaiki capaian tersebut,” jelasnya.
Sebagai bagian dari pengenalan inovasi kepada masyarakat, Expo Inovasi dijadwalkan berlangsung selama tiga hari, 3–5 November 2026. Baperida menyediakan tenda dan partisi tenant, sedangkan peserta bertanggung jawab atas dekorasi masing-masing.
Persiapan booth dijadwalkan mulai 1 November pukul 06.00, disusul pengecekan lokasi dan dekorasi tenant pada 2 November pukul 09.00. Pameran akan diisi pengenalan karya inovasi, talk show, pertunjukan musik, serta interaksi dengan pengunjung.
Peserta juga diminta menjaga kebersihan dan keamanan barang, mengantisipasi hujan karena tenda tidak dilengkapi lantai, serta mengosongkan area tenant pada pagi 6 November untuk persiapan acara puncak Kemilau Pekan Raya Ponorogo. (adv).
Penulis : ROHMAN









