PONOROGO, JATIMNESIA.COM — Rencana eksplorasi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) atau geotermal di kawasan Telaga Ngebel, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, memicu penolakan keras dari elemen masyarakat. Proyek yang dikembangkan oleh PT Bakrie Dharmalaya Energi ini dinilai menyimpan ancaman nyata bagi kelestarian lingkungan dan keselamatan warga sekitar.
Ketua Komunitas Pegiat Lingkungan Lostreen Indonesia, Haryanto mengungkapkan, bahwa berdasarkan hasil pemetaan lapangan bersama para pegiat lingkungan, kondisi geologis kawasan Ngebel sangat rentan terhadap eksploitasi skala besar. Pengeboran sumur eksplorasi hingga kedalaman lebih dari 3.000 meter dikhawatirkan bakal memicu kerusakan struktur tanah dan ancaman bencana ekologis.
“Pengeborannya di situ kalau misalnya sampai 3.000 lebih, secara otomatis akan sangat berdampak pada satu Telaga Ngebel, karena Ngebel tersendiri itu merupakan daerah penyangga air utama untuk Kabupaten Ponorogo,” ujar Haryanto saat dikonfirmasi, Jumat (30/10/2026).
Ia menjelaskan, Telaga Ngebel dan kawasan di sekitarnya merupakan zona tangkapan air vital. Jika pengeboran masif dipaksakan hingga tahap produksi, dampaknya secara langsung akan dirasakan pada penurunan debit sumber air bersih di Ponorogo.
Selain ancaman krisis air, aktivitas ekstraktif tersebut juga berisiko menimbulkan pencemaran lingkungan. Kandungan geotermal seperti mineral terlarut, logam berat, arsenik, merkuri, hingga bahan sulfur dikhawatirkan mencemari air tanah dan aliran sungai. Dari sisi udara, proyek ini juga menyimpan bahaya emisi gas beracun.
“Untuk emisi gas alam, untuk yang sangat berbahaya itu antara hidrogen sulfida, karbon dioksida, metana. Gas H2S itu kan pastinya berbau untuk pernapasan dan sangat mengganggu bilamana itu terjadi kebocoran,” tambahnya.
Hancurnya ekosistem lereng juga menjadi sorotan tajam. Haryanto menyebutkan bahwa kawasan Ngebel dikelilingi oleh banyak titik penambangan serta bentukan lereng purba yang rentan longsor jika struktur tanahnya mengalami penurunan akibat pengeboran di kedalaman ribuan meter.
Haryanto membandingkan, wilayah Jawa Timur dan Bali saat ini sudah disokong oleh pasokan listrik yang memadai dari PLTU Pacitan dengan kapasitas sekitar 600 megawatt, serta PLDA berkapasitas 2,2 megawatt yang sudah ada. Oleh karena itu, memaksakan proyek geotermal di Telaga Ngebel dinilai tidak terlalu mendesak (urgen) bagi pasokan listrik regional.
“ Masyarakat bersama aliansi pegiat lingkungan mendesak agar aktivitas eksplorasi dihentikan sebelum menimbulkan dampak buruk yang irreversible (tidak dapat pulih) bagi bumi dan kehidupan warga Ponorogo,” pungkasnya
Penulis : ROHMAN









