AMBON, JATIMNESIA.COM – Pemerintah Kabupaten Ponorogo dan Pemerintah Kota Ambon menjajaki kerja sama pengembangan seni, budaya, pendidikan, dan ekonomi kreatif sebagai sesama daerah dalam jejaring Kota Kreatif UNESCO atau UNESCO Creative Cities Network (UCCN).
Penjajakan tersebut berlangsung dalam pertemuan Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Ponorogo Lisdyarita dengan Wali Kota Ambon Bodewin Melkias Wattimena, Rabu (28/10/2026), pukul 15.00 Waktu Ambon.
Pertemuan itu berlangsung dalam rangka kunjungan Lisdyarita untuk memenuhi undangan Ambon International Music Festival (AIMF) 2026. Kedua daerah menjajaki peluang saling bertukar pengalaman dalam mengembangkan potensi budaya lokal, memperkuat pendidikan seni, serta membuka peluang kerja sama ekonomi yang melibatkan masyarakat dan pelaku industri kreatif.
Lisdyarita mengapresiasi ekosistem musik di Ambon yang dinilainya dapat menjadi pembelajaran bagi Ponorogo. Ia mengaku merasakan kuatnya identitas Ambon sebagai kota musik, termasuk ketika melihat aktivitas masyarakat dan ruang publik yang menunjukkan keterkaitan kota tersebut dengan musik.
“Banyak yang kita bisa pelajari ya dari sini,” kata Lisdyarita dalam pertemuan tersebut.
Menurut Lisdyarita, Ponorogo juga berupaya mengembangkan potensi kreatif daerah melalui pendidikan sejak usia dini. Pengalaman Ambon dalam membangun ekosistem musik diharapkan dapat menjadi referensi, sementara Ponorogo memiliki seni Reog sebagai kekuatan budaya yang dapat dikembangkan melalui pelestarian, pendidikan, dan regenerasi seniman.
“ Kedua daerah berpeluang memperluas pertukaran pengetahuan, komunitas seni, serta kegiatan budaya bersama,” ungkapnya.
Selain seni dan budaya, pertemuan tersebut membahas peluang kerja sama perdagangan antardaerah. Lisdyarita juga menyebut Ponorogo memiliki surplus beras yang dapat dijajaki pemanfaatannya untuk memenuhi kebutuhan daerah lain.
“ Kami juga tengah mencari informasi mengenai kuliner dan produk oleh-oleh khas Ambon yang berpotensi dipromosikan atau diperdagangkan melalui kerja sama antara Ambon dan Ponorogo. Sehingga orang-orang Ponorogo juga bisa menikmati makanan dan jajanan khas Ambon, begitupun sebaliknya,” harapnya.
Wali Kota Ambon Bodewin Melkias Wattimena menjelaskan, pemerintah kota berupaya memperkuat pendidikan musik melalui kurikulum di sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP).
“ Program tersebut telah diterapkan di sejumlah sekolah percontohan dan disiapkan untuk diperluas ke seluruh sekolah. Langkah ini bertujuan membekali anak-anak dengan pengetahuan musik, sekaligus mengembangkan bakat yang selama ini tumbuh secara otodidak,” ungkapnya.
Bodewin mencontohkan, kemampuan memainkan ukulele telah menjadi bagian dari potensi musikal anak-anak Ambon. Pemerintah kota juga menggelar festival ukulele setiap tahun sebagai bagian dari upaya pendidikan dan pengembangan musik. Menurut dia, festival tersebut tidak sekadar menjadi ajang pertunjukan, tetapi juga mengembangkan penggunaan instrumen ukulele melalui perpaduan musik tradisional, musik modern, dan lagu daerah.
“Harapannya ke depan akan lahir musisi-musisi hebat dari Kota Ambon melalui apa yang dilakukan saat ini,” ujar Bodewin.
Ia menambahkan, keberadaan Ambon Music Office (AMO) turut membantu mempromosikan musik Ambon hingga dikenal di tingkat dunia. Pengalaman tersebut berpotensi menjadi bahan pertukaran pengetahuan dengan Ponorogo, khususnya dalam membangun ekosistem seni yang berkelanjutan.
Bodewin juga membuka peluang pengembangan hubungan antarkota melalui skema sister city atau kota bersaudara. Menurut dia, penjajakan kerja sama selama ini banyak diarahkan ke kota-kota luar negeri, seperti di Australia dan Eropa, termasuk adanya tawaran dari Boston, Amerika Serikat.
“ Padahal, kerja sama antarkota di Indonesia juga dapat menjadi pilihan karena lebih mudah dijangkau tanpa kendala visa dan perjalanan penerbangan jarak jauh,” tambahnya.
Kedua daerah saat ini tengah intens dalam penjajakan kerja sama. Antaralain, pemetaan potensi, penentuan program prioritas, dan koordinasi antarpemerintah daerah. Kerja sama juga akan dikembangkan melalui pertukaran seniman dan pelajar, promosi budaya, pendidikan musik, serta pengenalan produk unggulan dan UMKM.
Dengan memanfaatkan jejaring Kota Kreatif UNESCO, Ponorogo dan Ambon diharapkan dapat memperluas kolaborasi yang tidak hanya memperkuat identitas budaya, tetapi juga mendukung pendidikan dan pertumbuhan ekonomi kreatif masyarakat. (adv).
Penulis : ROHMAN









