PACITAN, JATIMNESIA.COM – Petani tembakau di Kabupaten Pacitan dipaksa harus lebih kreatif saat menghadapi musim tanam di musim kemarau basah, Senin, 29 September 2025.
Kondisi cuaca yang tidak menentu saat mulai proses tanam hingga pascapanen, demi menjaga kualitas tembakau terbaik.
Salah seorang petani tembakau jenis grompol di Kabupaten Pacitan, Handoko, merasakan langsung dampak perubahan cuaca ekstrem ini.
Menurutnya, musim kemarau basah tahun ini menjadi yang terberat baginya sejak menekuni tanaman tembakau tiga tahun terakhir.
“ Tahun ini 2025, bagi petani tembakau cukup berat, Musim yang tidak menentu banyak menyebabkan tanaman layu dan mati,” kata Handoko, Senin (13/10).
Kondisi ini memaksa petani untuk melakukan penyulaman bibit hingga tiga kali dalam satu lahan.
Terlebih tanaman tembakau sangat rentan terhadap jamur dan penyakit layu akibat kelembapan tinggi.
Meskipun menghadapi kesulitan, Handoko tetap optimistis harga tembakau akan lebih tinggi.
Ia berharap harga jual tetap stabil dan tidak ada permainan harga yang merugikan petani.
“ Jika prediksi saya harga lebih tinggi panen ini, ya karena cuaca kemarau basah. Harapannya ya tentu harga stabil dan tidak ada permainan harga. Karena itu merugikan untuk petani,”pungkasnya.
Pihak berwenang juga mengingatkan masyarakat, khususnya petani, akan bahaya rokok ilegal. Rokok ilegal dapat dikenali dari lima ciri utama, yaitu tanpa pita cukai, pita cukai palsu, pita cukai bekas, salah peruntukan, dan salah personalisasi.
Demikian juga, menjual rokok ilegal merupakan pelanggaran hukum yang diancam pidana penjara satu hingga lima tahun dan atau denda yang besar. ( adv).
Penulis : Apriyanto








